Musim Kemarau Menggandai Derita: Bumi Retak, Sumber Air Menyusut, Hingga Bantuan PKH Pun Ikut Terdampak di Batu Poro Timur
BATU PORO TIMUR, KEDUNDUNG — SAMPANG, 27 September 2026 — Musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Sampang tak hanya mengeringkan tanah dan menyusutkan sumber kehidupan. Di Desa Batu Poro Timur, Kecamatan Kedundung, penderitaan warga kian bertumpuk: bumi retak, sumur mengering, dan kini bantuan sosial yang diandalkan pun ikut terimbas.
Bumi Mengering, Harapan Makin Menipis
Di musim yang seharusnya mengajarkan kesabaran, ujian datang bertubi-tubi. Tanah retak di mana-mana, sumur yang dulu jernih kini tinggal dasar kering, dan warga harus berjalan jauh hanya untuk setetes air. Belum usai derita kekeringan, kabar yang memilukan kembali datang: Program Keluarga Harapan (PKH) yang seharusnya menjadi penopang, ternyata tak berjalan sebagaimana mestinya.
Bantuan yang Harus Menopang, Kini Ikut Rapuh

Warga Desa Batu Poro Timur menaruh harapan besar pada PKH — bantuan yang dirancang untuk meringankan beban keluarga paling membutuhkan justru di saat-saat tersulit. Namun kenyataannya, ketidakberesan dalam penyaluran membuat bantuan itu tak sampai seutuhnya, tertunda, atau bahkan tidak jelas ke mana perginya.
Di saat matahari membakar bumi dan air sulit didapat, warga butuh kepastian, bukan ketidakjelasan. Mereka butuh bantuan tepat waktu, tepat sasaran, dan transparan — bukan alasan yang berputar di tempat.
Tak Boleh Dibiarkan Berlarut

Kemarau akan berlalu, tetapi ketidakadilan yang dibiarkan tanpa perbaikan akan terus membekas. Desa Batu Poro Timur tidak boleh ditinggalkan dalam kesendirian:
- Air harus dicarikan solusi berkelanjutan
- Penyaluran PKH harus diperiksa dan diluruskan
- Setiap rupiah bantuan wajib sampai ke tangan yang berhak
Bumi yang retak bisa kembali hijau jika hujan turun; namun kepercayaan yang retak hanya bisa pulih dengan keadilan yang nyata. Semoga suara warga ini didengar, dan perbaikan segera datang — sebelum kesulitan menjadi keputusasaan.
Penulis: Agus Mandie

