Dari Kota yang Tersepi Hingga Janji Suci: Tak Ada Anak Sampang Putus Sekolah — Kisah H. Idi di Pendopo Trunojoyo

SAMPANG, 1 Oktober 2026 — Pendopo Trunojoyo tampak bersinar hangat. Puluhan pelajar dan mahasiswa penerima Beasiswa SAHABAT, mengenakan seragam batik bernuansa biru dan hijau, berkumpul penuh harap. Di hadapan mereka, Bupati Sampang H. Slamet Junaidi (H. Idi) membuka lembaran kisah yang tulus: bagaimana ia menyaksikan sendiri derita warga, mengubah kota yang sepi bagai hutan, hingga menegaskan satu janji yang tak akan tergoyahkan — tidak ada satu pun anak di Kabupaten Sampang yang berhenti bersekolah karena alasan biaya.

Lahir dari Kepedulian yang Tulus
Beasiswa SAHABAT bukan sekadar program pemerintahan. Ia lahir dari langkah kaki yang tak kenal lelah menyusuri lorong-lorong desa, masuk ke rumah-rumah sederhana, dan menatap langsung mata anak-anak yang menyimpan cita-cita tinggi namun terhalang keterbatasan.

“Saya turun ke bawah, ke tengah warga. Saya lihat sendiri: anak-anak cerdas, bermimpi besar, namun peluang tertutup karena ekonomi keluarga belum memadai. Dari sanalah Beasiswa SAHABAT lahir — agar tak ada yang tertinggal,” ujar H. Idi dengan suara yang tenang namun tegas.
Bantuan pendidikan ini merangkul semua jenjang: dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, hingga Perguruan Tinggi. Negara hadir — bukan sebagai tamu, melainkan sebagai penjamin masa depan.

Menghidupkan Kota yang Pernah Tidur
Bupati mengingatkan masa-masa awal kepemimpinannya, ketika wajah Sampang masih sepi dan tertutup. Warung dan toko dilarang buka setelah pukul 22.00. Kota seolah tidur lebih awal, sementara perekonomian rakyat tak kunjung bangkit.

“Dulu Sampang sepi, sunyi, bagai hutan yang tak bernyawa. Tak ada roda yang berputar setelah malam tiba,” kenangnya.
Berbekal keberanian dan setelah berkonsultasi dengan para alim ulama, H. Idi mencabut pembatasan jam operasional. Toko dan usaha boleh buka 24 jam. Langkah yang sempat dipenuhi keraguan itu kini membuahkan hasil: jalanan makin hidup, Alun-Alun Wijaya Kusuma dan taman-taman kota menjulang indah — dibangun cerdas melalui kemitraan CSR dan BUMD, tanpa membebani anggaran rakyat secara berlebihan.

Memperjuangkan Warisan untuk Anak Cucu
Visi besar tak berhenti di pembangunan fisik. H. Idi berbicara tentang kekayaan yang selama ini ada di depan mata, namun belum sepenuhnya kembali ke tanah kelahiran: potensi minyak dan gas bumi di lepas pantai Sampang.
“Kekayaan ada di perairan kita, namun dulu kita tak diakui sebagai daerah penghasil. Hasilnya mengalir ke tempat lain, sementara kita hanya menjadi penonton,” tegasnya.

Melalui perjuangan diplomasi yang tekun, status Sampang kini diperjuangkan agar resmi diakui sebagai daerah penghasil migas. Produksi penuh diproyeksikan dimulai pada tahun 2029. Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan agar sumber daya alam ini kembali memberi manfaat — membangun sekolah, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mewujudkan kesejahteraan yang abadi.

Satu Janji, Sepanjang Masa
Di akhir pertemuan, H. Idi merangkum seluruh perjuangannya dalam satu kalimat yang menyentuh hati setiap yang hadir:
“Sampang Hebat Bermartabat tidak dibangun dari beton dan aspal semata. Ia dibangun dari anak-anak yang terdidik, bermoral, dan berbakti. Maka tak boleh ada satu pun putus sekolah karena miskin. Itu janji saya, dan janji ini tak akan pernah saya ingkari.”

Semoga langkah ini senantiasa diberkahi. Semoga setiap anak Sampang dapat mengejar mimpinya di tanah sendiri, dan tanah ini pun makin dicintai oleh putra-putrinya.
Penulis: SALADIN
Editor: AGUS MANDIE

