Buka-Bukaan H. Idi di Pendopo: Dari Kota Sepi Kayak Hutan Hingga Janji Tak Boleh Ada Anak Sampang Putus Sekolah!
SAMPANG — Mengenakan busana seragam batik khas SAHABAT bernuansa biru dan hijau, puluhan pelajar dan mahasiswa penerima Beasiswa SAHABAT memadati Pendopo Trunojoyo Sampang. Di hadapan generasi muda penerus bangsa ini, Bupati Sampang H. Slamet Junaidi (H. Idi) menyampaikan komitmen terbesarnya: tidak boleh ada satu pun anak di Kabupaten Sampang yang harus mengubur cita-citanya akibat terkendala biaya pendidikan.
Pertemuan hangat dalam agenda Temu Ramah Penerima Beasiswa SAHABAT Kabupaten Sampang Tahun 2025 tersebut menjadi panggung bagi H. Idi untuk membeberkan fondasi besar pembangunan Sampang—mulai dari penataan infrastruktur kota, keberanian mengambil kebijakan populer, hingga mimpi besar mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) unggul menuju Sampang Hebat Bermartabat.
Berawal dari Blusukan ke Rumah Warga
Di depan para wisudawan dan pelajar penerima Beasiswa SAHABAT, H. Idi blak-blakan menceritakan latar belakang lahirnya program bantuan pendidikan ini. Bagi H. Idi, Beasiswa SAHABAT bukanlah sekadar program formalitas pemerintahan, melainkan hasil dari mata dan hatinya yang menyaksikan langsung realitas sosial di lapangan.
”Saya sering turun ke bawah,
masuk ke rumah-rumah warga. Anaknya punya cita-cita besar, ingin kuliah, ingin sukses, tapi ekonomi orang tuanya lemah. Dari situ lahir Beasiswa SAHABAT,” ujar H. Idi diiringi tepuk tangan hangat para peserta yang hadir.
Program intervensi pendidikan ini menyasar berbagai jenjang, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga jenjang Perguruan Tinggi. Pemkab Sampang memastikan negara hadir di tengah masyarakat miskin agar akses pendidikan berkualitas terbuka luas untuk siapa saja.
Pondasi Ekonomi: Buka Toko 24 Jam Hingga Ubah Kota “Bak Hutan”
Dalam pidatonya, Bupati yang dikenal cerdas dan solutif ini membagikan kilas balik perjuangan kerasnya menata wajah Kabupaten Sampang pada masa-masa awal menjabat. Sebelum geliat ekonomi tumbuh seperti saat ini, Sampang digambarkan sebagai wilayah yang sangat sepi dan tertutup.
”Dulu itu Sampang sepi, kayak hutan, Pak. Warung kelontong sampai minimarket tidak boleh buka lebih dari jam 10 malam,” kenang H. Idi.
Mencermati kondisi ekonomi yang lesu, H. Idi mengambil langkah terobosan dengan mencabut aturan pembatasan jam operasional pedagang.
Sekalipun sempat menuai hujatan dan pro-kontra, H. Idi tetap kukuh membuka operasional usaha 24 jam penuh demi menggerakkan roda perekonomian rakyat. Langkah tersebut diambil setelah beliau terlebih dahulu sowan dan berdiskusi bersama para alim ulama.
Geliat perkotaan makin dipercantik dengan pembangunan Alun-Alun Wijaya Kusuma dan taman-taman kota yang megah. Menariknya, penataan ruang publik tersebut dilakukan secara efisien tanpa membebankan APBD secara berlebihan,
melainkan memaksimalkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari Bank Jatim dan mitra BUMD/swasta lainnya.
Menjemput Takdir Migas 2029 Demi Masa Depan Anak Cucu
Tak berhenti di penataan kota dan UMKM, H. Idi menyinggung perjuangan diplomasi energi daerah. Selama bertahun-tahun, potensi besar Sumber Daya Alam (SDA) migas di lepas pantai Sampang yang dikelola perusahaan multinasional seperti Petronas tidak memberikan dampak optimal bagi Dana Bagi Hasil (DBH) daerah.
”Ketika ada eksplorasi migas tapi kita tidak dikategorikan daerah penghasil, otomatis DBH-nya lari ke pusat. Dulu ini tidak diurus, kita cuma jadi penonton,” tegasnya.
Melalui sinergi erat bersama SKK Migas dan para pemangku kepentingan, H. Idi pasang badan merevisi status geopolitik migas Sampang agar diakui resmi sebagai daerah penghasil. Hasil dari perjuangan diplomasi ini diproyeksikan akan memasuki fase produksi penuh pada tahun 2029 mendatang.
”Insya Allah kita akan produksi di tahun 2029. Otomatis itu bukan saya yang menikmati hasilnya nanti, tapi minimal saya sudah berbuat untuk Kabupaten Sampang. Mencarikan sumber pundi-pundi aga,
Penulis/Saladin

